Tong kosong nyaring bunyinya

Malam ini, di tengah kegalauan dan ketidaktenangan pikiran dan hati yang sedang saya alami membuat gairah untuk menulis curahan hati di blog ini semakin kuat.

Berbeda dengan coretan yang pernah saya tulis sebelumnya, saya baru pertama kali membuat judul dengan kata-kata peribahasa. Luar biasa sekali rasanya, seperti menjadi seorang sastrawan kilat. Hehe.

Peribahasa yang saya rasa cukup menggambarkan apa yang ingin saya ceritakan malam ini sepertinya hanya satu : “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”

Mungkin sudah banyak yang mengetahui apa arti dari peribahasa tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa saya mengambil peribahasa tersebut sebagai judul tulisan saya kali ini?

Jawabannya seperti ini…

Jujur, beberapa hari belakangan ini saya merasa muak dengan seseorang yang berada satu kantor dan satu ruangan dengan saya. Muak dalam arti, saya kecewa dengan tingkah, sifat dan perilaku yang dapat dikatakan jayus, lebay, over dan banyak ide tanpa ada aksi dari orang tersebut.

Mungkin ada yang bilang, ngapain kamu urusin orang lain? Bukannya cuma buat kamu rugi. Rugi waktu dan pikiran.

Jika ada yang mengatakan seperti itu, jawaban saya mungkin sedikit Idealis. “Saya ada di lembaga ini, oleh karena itu saya merasa memiliki lembaga dan unit tempat saya bekerja sekarang. Masa depan lembaga yang tidak jelas hanya akan menjadi bom waktu.”

Kembali ke masalah “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”. Peribahasa tersebut menggambarkan seseorang yang banyak bicara tetapi tidak ada aksi nyatanya. Singkatnya saya menyebutnya dengan “Omdo”

Ya itulah yang terjadi dengan salah satu orang di tempat saya bekerja saat ini. Orang yang cenderung masih baru di unit/lembaga kami, memiliki posisi strategis tetapi terkesan hanya mampu berbicara, banyak ide, namun tanpa ada aksi dan arah yang jelas untuk lembaga ini sendiri. Bahkan seringkali mengurusi urusan atau job desk lain yang sebenarnya berada di luar posisinya.

Rasa muak dengan kenyataan yang saya lihat saat ini semakin bertambah ketika totalitas dari orang tersebut bersama lembaga dan unit kami mulai dipertanyakan. Di saat dibutuhkan atau diharuskan mengerti kebijakan serta mampu mengambil keputusan, justru disitu dia tidak ada.

Menghindar dari kenyataan mungkin itu yang saya rasa pantas untuk menggambarkan fakta yang terjadi saat ini untuk orang tersebut. Kredibilitas dan kapabilitas di lembaga ini pun akhirnya ikut dipertanyakan.

Sedih.. ya.. saya sedih.. sebagai seorang yang juga berada di dalam wadah yang sama, saya merasa bingung dan takut. Takut melihat masa depan lembaga ini di tahun-tahun mendatang. Bahkan gambaran mengerikan pun seringkali datang di pikiran saya melihat apa yang dilakukan orang yang memiliki posisi strategis itu bertindak.

Menyalahkan dan menjelek-jelekkan orang lain sepertinya telah menjadi bagian darinya. Ambisius, sombong, haus akan pujian dan memposisikan seperti orang pintar dengan kata-kata tingkat tingginya seakan tidak dapat lepas dari kesehariannya.

Hari ini bahkan saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa orang tersebut bisa mengatakan apa yang dikerjakan orang lain itu salah dan buruk, padahal dia sendiri belum pernah melakukan kegiatan yang sama.

Jauh sebelum orang tersebut mengatakan dan merendahkan orang lain pada hari ini, ia pernah mengatakan dan menganggap keputusan seorang yang mundur dari jabatan strategis merupakan sesuatu yang heboh dan mungkin dapat dikatakan memalukan.

Namun bagi saya, keputusan orang yang berani mundur dari jabatan apapun jika telah menganggap dirinya sendiri tidak mampu melaksanakan kewajiban dan tugasnya tersebut jauh lebih gentle dibandingkan dengan orang yang hanya mampu bicara, seakan-akan mampu melaksanakan tugss dan kewajibannya.

Aneh ya, memang itu faktanya.

Bagi saya, semua yang saya tuliskan ini menjadi refleksi pribadi. Saya merasa perlu untuk meningkatkan kesabaran. Ya, mungkin itu juga yang membuat saya lebih banyak diam selama di ruangan. Headset dengan musik yang mengiringi sepertinya selalu menjadi teman yang menghibur dan menenangkan emosi saat bekerja.

Dan yang pasti, saya semakin menyadari jika kita harusnya lebih mampu memahami pribadi orang lain dan juga mampu melakukan introspeksi diri lebih baik lagi.

Apa yang saya tuliskan ini tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan orang lain, namun hanya ingin mencurahkan apa yang saya rasakan sesuai dengan perasaan dan pikiran serta  fakta yang benar-benar terjadi di kehidupan saya.

“Talk less do more is more important better than talk more do less”

Rate this article!
Tags:

Leave a Reply