Sugeng Tindak Mbah Kakung, Damailah Di Sisi Bapa

Tanggal 28 Oktober 2015 sekitar pukul 13.30 WIB saya mendapatkan telepon dari Om saya yang berada di Bantul. Perasaan kurang enak sebenarnya hadir ketika saya mengangkat telepon tersebut.

Sebelum om saya memberikan kabar tersebut, pagi sekitar pukul 09.00 WIB, saya telah dihubungi oleh ayah saya yang berada di Sukabumi, Jawa Barat. Beliau mengatakan jika simbah kakung sudah meminta agar ibu saya pulang ke Jogja. Perasaan dan pertanda tersebut semakin membuat saya sedikit siap dalam menghadapi sesuatu yang terburuk dari simbah kakung.

Benar saja, dalam komunikasi lewat telepon tersebut om mengatakan jika simbah kakung baru saja dipanggil oleh Bapa. Kaget memang, namun saya sendiri cukup dapat menerima kenyataan tersebut mengingat simbah kakung telah hampir satu minggu menderita sakit dan beberapa kali minta diantar untuk berobat.

Banyak cerita yang hadir dari simbah kakung. Yang pasti, saya tidak akan ada di sini tanpa adanya beliau. Walaupun demikian, terlalu banyak waktu yang saya lewati jauh dari beliau. Sejak berusia 3 tahun saya sudah ikut merantau bersama orangtua di Sukabumi Jawa Barat. Hanya setahun sekali atau setahun dua kali kami mengunjungi simbah di Jogja.

Ketika saya masih kecil dan beliau masih sehat dan bugar, teringat jelas jika beliau selalu mengajak kami ke sawah untuk ikut membantu memetik cabai atau menyiram bawang merah. Setelah itu kami sering diajak main sepeda, karena memang kendaraan yang kami miliki dulu hanyalah sepeda ontel tua milik mbah kakung. Yang paling tidak kami lupakan adalah ketika kami akan kembali ke Sukabumi.

Mbah kakung maupun mbah putri selalu memberikan kami “Sangu” yang menurut kami cukup besar untuk ukuran seorang anak kecil. Dan itu masih sering dilakukan oleh mbah kakung dan mbah putri hingga kami telah cukup dewasa, setiap kali kami pulang ke Jogja. Saya mulai berfikir, mungkin pemberian tersebut sengaja disiapkan oleh Simbah untuk cucu-cucunya yang berada jauh di luar kota sebagai obat kangen dari beliau.

Ketika saya sudah mulai kuliah dan kebetulan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, maka orang tua dan simbah sering kali berpesan jika memungkinkan setiap libur pulang ke rumah simbah. Ya pada mulanya memang hal tersebut saya lakukan, namun melihat jarak tempuhnya yang cukup jauh dari Paingan menuju pantai selatan Yogyakarta, badan saya pun lama-lama terasa cukup lelah dan akhirnya intensitas mengunjungi simbah pun mulai berkurang.

Di saat usia simbah kakung yang mulai bertambah dan semakin renta, beliau masih terlihat semangat. Walaupun sudah tidak dapat melakukan aktivitasnya di Sawah, simbah tidak kehilangan akal untuk terus mencari kegiatan. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan cara memelihara bebek di pekarangan rumah.

Saya sempat bertanya kenapa masih memelihara dan memikirkan bebek, padahal seringkali kondisi fisik dari simbah sendiri sudah terlihat lelah. Simbah cuma menjawab, “Buat kegiatan, daripada cuma diam saja.” Semangat untuk tidak tinggal diam dan terus bekerja tersebut pula yang sering kali terlihat dari beliau ketika cucu dan buyutnya datang ke rumah di Bantul.

Menjelang kepergian simbah, beliau masih terus saja memikirkan bebek peliharaannya yang jumlahnya mungkin sekitar 60 ekor. Walaupun dengan batuk-batuk karena sakit, beliau masih mencoba untuk memberi makan dan minum bebek di kandang. Bahkan hingga pada saat beliau hanya bisa berbaring tidur karena sakit, beliau masih selalu memikirkan bebek. Ya, kami berfikir jika masa tua beliau sangat terbantu oleh “Bebek” yang selalu membuatnya semangat dan menikmati hidup.

Kadang kami kesal untuk menginggatkan sesuatu yang terbaik menurut kami bagi beliau. Namun sikap keras dan semangat yang beliau tunjukkan telah membuat kami mencoba untuk memahami kehidupan beliau. Hingga ketika beliau sakit, kami meminta untuk rawat inap di rumah sakit, namun beliau menolak. Kami mencoba untuk menerima keputusannya, karena jujur kami ingin memberikan apa yang terbaik bagi beliau di akhir hidupnya.

Sayang, sakit yang dideritanya selama satu minggu terakhir membuat Mbah Kakung harus pergi untuk selamanya ke rumah Bapa pada tanggal 28 Oktober 2015 sekitar pukul 13.00 WIB. Yang paling menyedihkan lagi, Simbah pergi tanpa ada satupun anak dan cucunya di dekatnya, hanya Simbah Putri yang ada di sana.

Selamat jalan Mbah Kakung, maafkan anak, cucu dan buyutmu ini yang sering membuatmu kecewa. Semoga Simbah Damai di sisi Bapa. Kami hanya bisa berdoa dan melanjutkan warisan semangat dan hal baik yang telah simbah berikan. Sampai bertemu lagi ya.. Rest in peace Mbah. We Love You Mbah FX. Darmi Karyono…

Dari Cucu pertamamu,
Stephanus Christiono
Ayah buyut pertamamu, Aileen

Tags:

Leave a Reply