Sedikit cerita dari pernikahan Ovix dan Mita di Klaten

Hari ini, Minggu (14/6/2015), mungkin akan menjadi hari dan tanggal paling membahagiakan di kehidupan teman kami Ovix dan Mita. Ya, pada tanggal 14 Juni 2015 ini mereka resmi mengucapkan janji suci dalam Sakramen Pernikahan yang dilaksanakan di Gereja St. Ignasius Ketandan, Klaten.

Walaupun kami tidak dapat hadir di acara penerimaan sakramen pernikahan, namun kami masih diberi kesempatan untuk dapat menghadiri acara resepsi di Gedung Sunan Pandanaran (RSPD) pada siang harinya.

Kami (saya dan istri) berangkat dari Jogja sekitar pukul 10.30 WIB menuju tempat diadakannya acara resepsi pernikahan Ovix dan Mita di Klaten. Tanpa ada halangan berarti, kami pun tiba di tempat acara sekitar pukul 11.15 WIB.

Setibanya di sana, saya bertemu dengan rekan saya lainnya, Nitnot dan Sahili, kemudian bertemu dengan Wahyu Sekeluarga (Wahyu, Daniel, Babenya, Enyaknya). Belum sempat masuk gedung, HP kuning saya berbunyi. Eh, Wawan kirim message lewat WhatsApp. Si wawan kampret (sebutannya wawan) ternyata sudah ada di dalam gedung sama si Sapi (pacarnya wawan).. hehe..

Daripada pisah-pisah, kami akhirnya menjadi satu tempat dengan Wawan. Tidak lama kemudian, rekan kami lainnya, Yohan datang dan bergabung bersama kami.

Ada yang unik bagi saya dalam acara pernikahan Ovix dan Mita. Pertama, saya baru pertama kali mengikuti acara pernikahan dengan model Klaten yang terkenal dengan sebutan “Piring Terbang”. Piring terbang sendiri merupakan acara pernikahan di mana kita hanya duduk tanpa harus mengambil makanan, karena makanan tersebut diantar oleh para petugas (sinom).

Sebenarnya ada sedikit pandangan tentang Piring Terbang ini, tapi karena saya menganggap hal tersebut sebagai adat atau kebiasaan dari suatu daerah, makanya saya memilih tidak berkomentar dan lebih menikmati tradisi tersebut sebagai hal dan pengalaman baru.

Kedua, saya tertarik dengan grup pengiring/penyanyi di acara tersebut. JONY ARMANDO – nama yang paling membuat saya sedikit geli dan ingin tertawa rasanya jika nama tersebut diucapkan oleh sang empunya nama. Nada yang sedikit tegas, namun agak sedikit kemayu dengan badan besar nan maskulin menjadi hal yang menghibur kami. Hehe..

Ketiga, Sesi foto bareng yang sedikit membingungkan.
Dari sekian banyak acara pernikahan yang pernah saya ikuti dan datangi, mungkin acara pernikahan Ovix dan Mita ini menjadi pengalaman baru, khususnya pada saat kami akan melakukan foto bersama kedua mempelai.

Ya, saya menganggap yang ada pada pernikahan Ovix dan Mita merupakan tradisi. Jadi tidak ada yang harus dikomentari, namun hanya perlu dicermati dan dijadikan tambahan informasi terkait budaya dan adat yang ada di wilayah klaten.

Overall.. proficiat buat kedua mempelai, Ovix dan Mita. Semua rangkaian acara berjalan dengan baik dan lancar. Semoga dapat menjadi keluarga yang berbahagia selamanya. Semoga cepat menyusul mendapatkan gelar “Bapak/Ibu” dari anak-anak. Hehe..

Happy Wedding my Friend…
Liemin – Nimo (Family)

Leave a Reply