Refleksi Seorang Ayah Muda Di Tengah Era Teknologi

Menikah dan menjadi orang tua dari anak-anak yang dititipkan Tuhan merupakan sebuah peristiwa yang banyak orang ingin lewati dalam hidupnya. Jika kita sekarang telah melewati kedua peristiwa tersebut, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Sebuah pertanyaan sederhana yang akan memunculkan banyak sekali jawaban dan perbedaan pendapat dari masing-masing pribadi.

Sebagai seorang yang telah menikah di tahun 2012 lalu dan kini telah memiliki seorang anak berusia 20 bulan, saya merasa jika menjadi orangtua itu tidaklah mudah. Bagi saya, status sebagai orang tua merupakan suatu tanggung jawab yang besar.

Tanggung jawab tersebut semakin besar jika melihat latar belakang agama dan keyakinan yang saya anut. Sebagai seorang nasrani, saya selalu teringat dengan pernyataan “Menjadi seorang Katolik itu tidak mudah, banyak tantangannya”. Karena banyak tantangan dan tidak mudah, maka saya merasa perlu terus membimbing anak saya nanti untuk dapat melewati tahapan kehidupannya melalui bimbingan gereja dan keluarga.

Selain itu, di era teknologi yang semakin berkembang secara cepat ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk dapat membimbing anaknya agar tidak salah dalam mengambil pilihan hidupnya ke depan. Banyak godaan yang hadir di era teknologi ini, bahkan seringkali membuat anak semakin jauh dengan Tuhan.

Kekerasan, pornografi, pornoaksi dan hal-hal yang dahulu dianggap tabu bagi seorang anak, kini telah berubah menjadi suatu hal yang biasa. Kesibukan orang tua kadang kala menjadi salah satu penyebab dari perubahan tumbuh kembang anak saat ini.

Sebagai contoh, seorang anak berusia 1 tahun ada kalanya telah diberikan gadget seperti tablet ataupun handphone. Memang tidak ada salahnya memberikan sesuatu yang terbaik bagi anaknya. Namun jika belum dirasa perlu dan sesuai dengan usianya, maka saya sendiri merasa berhak untuk tidak memberikannya kepada anak.

Beruntung, saya dan istri telah sama-sama berkomitmen untuk tidak membatasi tumbuh kembang anak. Namun demikian, kami tetap memiliki tanggung jawab untuk tetap membimbing dan mengawasinya agar tidak keluar dari jalur dan ajaran gereja. Selain itu, kami juga tidak ingin anak menjadi seorang yang anti sosial karena sibuk dengan gadget yang selalu menemani kemana pun ia pergi.

Walaupun saat ini kita tidak bisa membatasi kemajuan teknologi yang sangat cepat, namun saya merasa perlu untuk terus belajar untuk mengikuti perkembangan tersebut. Jangan sampai ungkapan orangtua “gaptek” itu datang dan akhirnya membuat anak menjadi lebih pintar daripada orangtuanya dalam hal teknologi. Saya sadar hal tersebut sulit, namun saya percaya jika ada kemauan maka di situ akan ada jalan.

Tags:

Leave a Reply