Menjalani aktifitas yang padat, interaksi atau berjabat tangan, hingga bersentuhan dengan bermacam-macam benda secara tidak sadar menjadi perantara beralihnya kuman dari suatu tempat ke tubuh kita.

Hal inilah yang belum disadari oleh banyak orang, mereka mungkin bisa dengan leluasa melakoni kegiatan sehari-hari tanpa peduli bahwa perkara yang mereka sepelekan akan membawa dampak buruk bagi kesehatan.

Penyakit disentri misalnya. Disentri bisa dibilang serupa dengan penyakit diare yang disertai buang air besar encer atau mencret dan diikuti dengan keluarnya darah serta lendir akibat infeksi parasit atau bakteri pada saluran pencernaan.

Tidak berbeda jauh dengan penyakit yang menyerang anak-anak lainnya, gejala penyakit disentri sebetulnya mudah untuk dikenali. Hanya saja kebanyakan orang kurang mencermatinya.

Karena terlalu sering buang air besar, penderita disentri kerap kekurangan cairan. Keadaan ini semakin diperparah apabila mereka tidak memperoleh suplai air yang cukup. Sebab, dehidrasi yang sudah mencapai level parah akan berimbas pada kinerja organ penting di dalam tubuh.

Upaya paling akurat saat anda menjumpai gejala penyakit disentri pada anak maupun bayi adalah dengan memberikan infus. Apabila anak-anak menunjukkan gejala penyakit disentri selama 6 kali atau lebih dari 24 jam, maka anda disarankan untuk membawanya ke dokter

Berdasarkan faktor penyebabnya, dissentri dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  1. Disentri basiler yaitu disentri yang dipicu infeksi bakteri, patogen shigella yang andil dalam menimbulkan disentri pada anak dan bayi.
  2. Disentri amoeba atau amoebaensis disebabkan oleh parasit bersel satu bernama entamoeba histolytica. Gangguan ini umumnya menyerang orang yang bermukim di daerah tropis.

Resiko komplikasi memungkinkan penderita disentri mengalami komplikasi, yang apabila tidak segera diatasi beresiko menyebabkan kematian. Daerah sanitasi yang buruk, kurangnya sarana prasarana serta faktor kebersihan yang masih dikesampingkan ditengarai menjadi pemicu disentri yang dibarengi dengan sederet sinyal, seperti:

  1. Perut terasa mual
  2. Frekuensi buang air besar yang meningkat
  3. Warna tinja hijau dan bercampur darah
  4. Suhu badan meninggi disertai kajang pada bagian perut
  5. Kondisi tubuh yang melemah
  6. Didera kehausan berkepanjangan

Nah, bagi anda yang tidak ingin terkena disentri, berikut langkah pencegahan yang perlu anda aplikasikan.

  1. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun setelah memakai toilet.
  2. Memisahkan pakaian pengidap saat dicuci.
  3. Hindari pemakaian handuk atau peralatan makan yang sama dengan penderita.
  4. Penderita dilarang keluar rumah minimal 48 jam setelah periode disentri berakhir.

Semoga bermanfaat.

Facebooktwittergoogle_plus
error: