Pendapat dan asumsi

Kita mungkin sering kali secara tidak sengaja mengeluarkan pendapat kita ketika sedang berbicara dalam kelompok mapun secara personal dengan orang lain. Namun sadarkah kita, jika pendapat yang kita keluarkan itu merupakan asumsi? Apa yang ada rasakan jika ketika anda berpendapat, pendapat anda dipotong dan dikatakan jika anda bukan berpendapat melainkan hanya berasumsi?

Saya memang tidak terlalu pintar untuk dapat membedakan antara asumsi maupun pendapat (opini). Bagi saya yang bukan seorang ahli bahasa, asumsi merupakan suatu dugaan yang menjadi landasan berpikir karena kita anggap benar, sedangkan pendapat atau biasa disebut dengan opini merupakan suatu ungkapan dari diri pribadi yang mungkin sudah merupakan bagian kesimpulan.

Kenapa sech saya menulis mengenai Asumsi ?

Mungkin karena saya masih menduga-duga, mengira-ngira dan masih bingung dengan perkataan seorang atasan yang suatu ketika mengatakan dalam suatu diskusi jika anda hanya asumsi. Dia akhirnya tidak dapat menerima apapun pendapat yang diutarakan oleh anggota kelompok diskusi tersebut.

Melihat apa yang dilakukan atasan tersebut, saya yang juga berada dalam kelompok diskusi tersebut langsung berasumsi jika atasan saya ini arogan karena selalu merasa paling benar. Tapi itu masih merupakan asumsi saya berdasarkan pada apa yang saya alami pada saat itu.

Menurut pendapat saya, memotong pembicaraan seseorang ketika dalam suatu diskusi sudah merupakan bentuk dari ketidakpuasan seseorang terhadap apa yang sedang dikatakan oleh orang lain. Selain itu, saya juga merasa jika hal tersebut merupakan tindakan yang kurang baik dari seorang atasan kepada anggota kelompoknya.

Cerita lain datang hari ini ketika orang yang sama baru saja bercerita kepada kami, jika dirinya baru saja memergoki rekan kerjanya yang menurutnya tidak sesuai dengan aturan yang berlaku pada instansi. Menurutnya, rekannya tersebut telah melakukan kesalahan dengan meninggalkan ruangan ketika acara sedang berlangsung. Ketika ditanya mengapa keluar dari ruangan, rekannya menjawab jika dirinya sedikit marah dengan apa yang terjadi di dalam ruangan.

Melihat kejadian tersebut, ia kemudian mengatakan jika rekannya tersebut salah dan berkata jika rekannya tersebut hanya berasumsi apa yang dilakukannya saat ini telah benar, padahal itu salah. Merasa apa yang dilakukannya kepada rekannya tersebut benar, maka akhirnya ia menuliskan kejadian yang dialaminya hari ini kemudian dibuatkan suatu laporan yang kemungkinan akan dibawa ke dalam diskusi kelompok.

Ehm.. susah juga kalo punya seorang rekan yang selalu berpendapat jika dirinya benar. Namun itu semua cuma sebatas pendapat saya. Saya juga tidak mau berasumsi lebih banyak mengenai orang tersebut.

Apakah pengalaman yang saya tuliskan ini hanya merupakan suatu pendapat pribadi saya saja, ataukah mungkin hanya sebatas pada asumsi pribadi saya? Semua biar anda yang menentukan. Jika memang saya salah dalam mengartikan dan membedakan antara pendapat dan asumsi, maka saya minta maaf karena saya memang tidak terlalu pintar untuk dapat membedakan antara asumsi maupun pendapat (opini).

Rate this article!
Pendapat dan asumsi,0 / 5 ( 0votes )

Leave a Reply