Menuju Keluarga Yang Ideal

My Family

My Family

Sebuah pengalaman dan ilmu baru dalam mendidik anak kami dapatkan pada hari sabtu (3/9/2016). Ketika itu kami mengikuti acara parenting yang dilaksanakan oleh sekolah anak kami Aileen.

Sebagai informasi, Aileen dua bulan lalu telah naik tingkat dari yang sebelumnya hanya daycare menjadi Playgroup. Walaupun masih berusia cukup kecil yaitu 2 tahun 6 bulan, perkembangan Aileen selama dua bulan masuk kelas PlayGroup sudah mulai terlihat. Aileen semakin kritis dan cukup banyak memberikan kejutan-kejutan bagi kami.

***

(Menuju Keluarga Ideal)

Kembali ke topik yang saya ingin ulas. Pada acara parenting yang kami ikuti tersebut ada beberapa hal yang menarik, namun pada dasarnya di sana kami diajarkan untuk cara mendidik anak (ya namanya juga parenting..hehe). Hal yang cukup menarik bagi kami adalah narasumber yang juga seorang guru lulusan Psikologi mengatakan jika keluarga yang ideal dalam kemajuan tumbuh kembang anak adalah keluarga yang hanya terdiri dari Ayah, Ibu dan anak.

Kenapa demikian? Bukan berarti anak hidup bersama kakek, nenek, om, tante, ataupun anggota keluarga lainnya di dalam satu rumah tidak baik, namun lebih disebabkan karena tumbuh kembang anak akan terganggu jika masih ada banyak pihak yang terkait dalam satu rumah.

Ketika dijelaskan seperti itu, kami hanya mengiyakan saja karena kami sendiri masih tinggal bersama kakek dan nenek aileen. Sehingga belum dapat dikatakan sebagai keluarga yang ideal.

Selain sangat disarankan rumah hanya berisi Ayah, Ibu dan anak, tumbuh kembang anak akan sangat dipengaruhi oleh aturan main yang diberikan oleh setiap keluarga. Dalam hal ini aturan main harus secara penuh ditetapkan oleh Ayah sebagai kepala keluarga. Walaupun demikian ibu juga berhak untuk membuat aturan main. Semuanya dapat dikondisikan dan dikomunikasikan.

***

(Aturan Main)

Terkait aturan main dalam keluarga itu sebenarnya cukup simple dan berfungsi untuk membuat anak lebih mengetahui tanggung jawabnya. Sebagai contoh, saya tidak ingin Aileen menjadi seorang anak yang anti sosial karena kecanduan gadget. Maka saya akan membuat aturan main yang cukup humanis kepada Aileen. Humanis disini berarti tidak berarti melarang Aileen untuk tidak menyentuh gadget, namun lebih membatasi ruang geraknya dengan gadget.

Sejauh ini aturan main tentang gadget yang saya berikan kepada Aileen cukup sukses karena Aileen memang tidak terlalu senang bermain dengan barang tersebut. Ia hanya akan memegang gadget ayahnya ketika ia akan tidur atau ingin melihat video yang ada di gadget ayah. Bahkan ada kalanya Aileen tidak berani memegang gadget jika tidak ditemani oleh Ayahnya.

Ya, selain aturan main tentang gadget tersebut masih banyak aturan main yang kami lakukan kepada anak (aturan main tentang mandi, minum multivitamin, dll) , namun belum sepenuhnya berhasil (aturan main kalua sedang makan). Namun kita selalu berusaha untuk mendidik aileen sesuai dengan apa yang didapatnya di sekolah.

***

(kembali ke menuju keluarga ideal)

Karena hingga saat ini saya belum bisa menjadi keluarga ideal, maka saya sendiri berusaha untuk dapat segera mewujudkannya setelah istri saya menyelesaikan studi S2 nya. Dengan menjadi keluarga ideal, maka segala tumbuh kembang anak akan secara otomatis menjadi tanggung jawab dari kedua orang tuanya. Baik dan buruknya anak akan terlihat dari cara kita mengasuh dan membimbingnya hingga dewasa.

Keluarga ideal itu sebenarnya benar-benar mengutamakan kemandirian kedua orang tuanya..

Semangat untuk menjadi keluarha ideal.. Saya yakin kami pasti bisa… Amin..

***

Jangan dibaca terlalu serius, karena tulisan ini cuma sedikit curhat saja… haha…

Rate this article!
Tags:

Leave a Reply