banjir jakarta 2013

 image source : ahok.org

Cuaca Buruk yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia awal tahun 2013 ini cukup membuat rakyat Indonesia panik. Puncak kepanikan terjadi di Ibukota negara Indonesia, Jakarta. Hujan lebat dan cuaca ekstrem yang terjadi pada tanggal 15-16 Januari 2013 membuat jakarta tergenang oleh air. Pada tanggal 16 Januari 2013, Jakarta Lumpuh. Istana dan hampir semua wilayah jakarta ikut tergenang, bahkan genangan yang saat ini sudah bisa di bilang sebagai Banjir.

Banjir Jakarta saat ini sudah seperti Tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, di mana semua kota terturup oleh air. Masyarakat panik, dan akhirnya pejabat pemerintah mengeluarkan Jakarta Darurat Banjir.

Jika saya amati,  ada keanehan dari bebearapa masyarakat di Jakarta yang saat ini sedang terkena bencana Banjir. Berikut ini beberapa hal yang saya temui dan mungkin bisa di jadikan sebagai Refleksi bagi Warga Jakarta :

  • Saling menyalahkan

Entah sudah menjadi Budaya atau sifat orang yang tinggal di Jakarta, jika terjadi sesuatu bencana atau permasalahan, pasti akan ada orang yang menyalahkan orang lain. Mencari kambing hitam menjadi salah satu favorit dari beberapa masyarakat yang ada di jakarta.

Begitu juga dengan banjir Jakarta, Jokowi sebagai Gubernur baru di salahkan oleh beberapa pihak dan di anggap tidak mampu mengatasi banjir di jakarta.

HALLO saudara-saudara, Pejabat itu bukan seorang pesulap atau pun seorang nabi yang dapat menyelesaikan masalah dengan cepat. Banjir itu tidak akan selesai dalam hitungan masa kerja yang kurang dari 100 hari, sudah lah jangan saling menyalahkan. Cobalah introspeksi diri kita, apakah banjir itu sebenarnya di sebabkan oleh diri kita?? bukan saatnya utntuk saling menyalahkan. Saatnya saling bantu-menbantu, gotong royong mengatasi bencana yang terjadi secara bersama-sama.

  • Jika ingin di bantu, harus bayar

Jakarta yang katanya kota metropolitan benar-benar membuat banyak masyarakat indonesia pergi ke Jakarta padahal tanpa ilmu dan keterampilan, hidup di jakarta akan terasa sulit. Untuk makan saja sulit, itulah kenapa ada kata-kata “SIAPA SURUH DATANG JAKARTA“. 

Mungkin hal tersebut yang membuat masyarakat jakarta memanfaatkan bencana untuk meraup penghasilan. Aneh memang, entah dari mana budaya seperti ini?? di saat bencana datang, kita bukan saling tolong-menolong, saling gotong royong untuk saling membantu sesama, tetapi di jakarta kenapa pertolongan itu mahal harganya??

Mau sampai kapan kita harus mengharapkan pamrih dari orang lain yang kesusahan?? Indonesia sudah berubah. Saat saya SD hingga SMP, mata pelajaran PPKN menjadi dasar dari pengetahuan dan budaya indonesia yang saling membantu dan saling menghormati, tapi sekarang semua itu sudah tidak terlihat di beberapa tempat di Indonesia. Indonesia lebih sering di hiasi oleh isu SARA..

Semoga Indonesia cepat sembuh dari bencana yang ada.. Semoga banjir Jakarta semakin cepat surut dan semua aktifitas cepat kembali normal.

error: Content is protected !!