I don’t understand why you are always thinking of appreciation

Apresiasi, apresiasi dan apresiasi.. kata-kata itu sepertinya mulai akrab hadir di dalam hidup saya belakangan ini. Entah kenapa saya merasa sedikit heran ketika seseorang selalu mengharapkan apresiasi dari apa yang di kerjakannya. Bukankah pada jaman kita sekolah SD dulu selalu mengatakan tanpa pamrih dan imbalan ketika sedang mengerjakan ulangan PPKn?

Lucu dan unik, namun itulah kenyataan dari apa yang saya alami beberapa bulan terakhir. Pergantian kepala lembaga tempat saya bekerja saat ini ternyata membawa saya kepada suatu hal yang terkesan seperti sandiwara dan permainan semata. Sandiwara yang dimainkan dengan cukup cantik dengan seakan-akan mampu bekerja dengan total, namun kenyataannya tidak seperti itu.

Jujur, selama setengah tahun ini saya cenderung diam karena memang sedang mencoba untuk menikmati dinamika baru yang tengah terjadi dan juga mencoba untuk mempelajari serta mengenali pribadi dari pimpinanku yang baru. Setelah masuk awal bulan desember, kekwawatiran mulai saya rasakan secara pribadi melihat sosok seorang pemimpin yang bagi saya cukup memalukan.

Saya tidak ingin membanding-bandingkan dengan pemimpin lembaga yang lama. Namun saya mencoba melihat dari banyak sisi seperti pada sisi pribadi, sisi totalitas dalam bekerja dan sisi komunikasi.

Dari sisi pribadi, saya sendiri sepertinya tidak terlalu cocok dengan kepribadiannya karena beberapa sifatnya cenderung melihat sesuatu kepada apresiasi, status, pengakuan dan cari perhatian. Omongan yang cenderung tinggi, hiperbolis, lebay dan penuh dengan kata-kata filosofi terkadang membuat saya sendiri tidak dapat menangkap apa yang ia katakan.

Berdasarkan pandangan pribadi saya, beliau sering kali ingin agar apa yang dikatakannya dengarkan oleh orang, namun ia sendiri tidak terlalu menanggapi dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain.

Selain sisi pribadi, saya merasa sisi totalitas bekerja untuk lembaga pun sepertinya tidak terlalu total. Kurang totalnya ia dalam bekerja di lembaga ini sepertinya cukup terkait dengan apa yang pernah ia sampaikan dimana ia hanya akan menjadi pemimpin lembaga ini selama satu periode saja. Selain itu juga ia pernah mengatakan jika jiwanya ada pada penelitian, bukan pada penjaminan.

Bagi saya, seorang pemimpin seharusnya dapat membedakan dan memilih prioritas dalam bekerja khususnya dalam hal yang pribadi dan profesional. “Sadarlah sir, anda dibayar untuk lembaga ini, bukan hanya untuk dijadikan status untuk mendukung penelitian anda”. Menurut saya, jika seorang pemimpin bekerja dengan total tanpa memikirkan apresiasi terus maka apresiasi itu akan datang dengan sendirinya.

Sisi lain yang saya cukup soroti adalah sisi komunikasi. Saya akui dari segi komunikasi ia lebih baik daripada kita semua yang ada di lembaga ini karena ia merupakan orang bahasa. Namun saya hanya bisa sedikit berharap agar dalam berkomunikasi ia mampu menurunkan gaya bahasanya yang hiperbolis, tinggi dan terkesan sombong tersebut. Cobalah jangan terlalu banyak bicara, banyak ide tapi tanpa ada aksi nyata.

Secara umum, saya sendiri kecewa dengan orang-orang yang cenderung mengharapkan imbalan tanpa menyadari posisi dan tugasnya yang seharusnya. Come on.. Hidup ga harus dinilai dengan apresiasi, status dan kesombongan kan.. Masak, setiap hari yang dibahas hanya keuntungan pribadi saja. Kalo emang itu yang dicari, mungkin lebih layak orang itu menjadi seorang pedagang dibandingkan sebagai seorang akademisi.

Maaf, jika kata-kata yang saya tulis ini menyinggung seseorang. Karena saya hanya menuangkan apa yang saya rasakan. Selain itu, karena ini adalah blog pribadi saya,  maka saya sendiri merasa memiliki hak penuh atas apapun yang saya tulis di sini. :p

Tags:

Leave a Reply