Kata gotong royong seharusnya membuka pandangan kepada kita agar saling membantu. Namun apa jadinya jika gotong royong tersebut terdapat embel-embel kata “denda seratus ribu”?

Cerita ini merupakan pengalaman yang kami alami hari ini (21/01/2017). Ga perlu ditanggapi/dicaci ataupun dibuat menjadi viral kaya yang lagi kekinian sekarang di negeri tercinta Indonesia.

Saya merupakan seorang yang tinggal di sebuah dusun yang bernama Besi, salah satu dusun yang berada di kelurahan Sukoharjo, kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selama lebih dari 2 bulan belakangan ini dusun kami tengah disibukan dengan kegiatan yang namanya “GOTONG ROYONG”.

Gotong royong yang kali ini dilakukan di dusun kami ini terbilang acara yang tidak biasa. Kenapa? Karena kali ini kami tengah berusaha untuk membangun sebuah bangunan yang nantinya akan disebut sebagai “Balai RW”.

Pembangunan Balai RW ini sendiri diperkirakan akan membutuhkan dana yang cukup besar menurut saya dan juga beberapa warga lainnya, yakni sekitar kurang lebih Rp. 300.000.000,- (kalo menurut proposal yang sempat datang ke tempat saya sech nominalnya sekitar segitu).

Karena saya sendiri tidak pernah terlibat tentang bagaimana rencana detail pembangunan Balai RW tersebut, maka saya rasa tidak baik jika saya harus bercerita tentang asal mula proposal pembangunan sarana dusun tersebut bahkan mencacat kebijakan yang telah diambil oleh panitia, khususnya kebijakan tentang mencari dana. Sebagai seorang warga yang baik dan masih tergolong baru juga, saya hanya bisa untuk mengikuti kebijakan yang ada. (Sedih sakjane..)

Beberapa cara telah digunakan oleh panitia untuk dapat memperoleh dana. Salah satu caranya adalah dengan cara meminta bantuan dari warganya sendiri. Pada saat mereka mengajukan proposal, dikatakan jika tiap kepala keluarga dimohon bantuan dana sebesar Rp. 250.000,- (ini menurut saya masih ga masalah, walaupun sebenernya saya yakin akan cukup memberatkan banyak warga lainnya).

Saya pikir dengan iuran per KK tersebut, masalah kepada setiap keluarga terkait dana bantuan telah selesai. Ternyata salah.. (maklum saya dulu terbiasa tinggal di perumahan yang biasanya kalo ada tagihan ya tinggal bayar dan kemudian masalah selesai)

Selain memohon bantuan dana dari masing-masing KK, rupanya panitia membentuk kelompok Gotong Royong yang anggotanya adalah semua pria dewasa yang ada di dusun kami. (saya sendiri masuk ke dalam kelompok 8). Pasti sudah tau kan maksud dari pembentukan kelompok gotong royong tersebut?

Ya, kelompok gotong royong tersebut dimaksudkan untuk meminta bantuan tenaga kami dalam membangun Balai RW agar semua warganya dapat merasakan kebersamaan dan sama-sama merasa memiliki bangunan baru tersebut. (untuk alasan ini mungkin sangat realistis dan masuk akal)

Selain biar membuat warganya menjadi lebih “Guyub”, kelompok gotong-royong yang dibentuk rupanya menjadi salah satu tempat untuk mencari dana. Kenapa? Karena terdapat aturan yang berdasarkan kesepakatan sebelumnya antara panitia dan perwakilan warga pastinya (karena saya sendiri tidak datang pada saat itu) bahwa, jika orang yang tidak datang pada saat gotong royong pada jadwal yang telah ditentukan, maka dikenakan biaya kompensasi (saya lebih suka dengan istilah “Denda”) sebesar Rp. 75.000,- dan tidak dapat diwakilkan atau digantikan orang lain.

Saat ini pembangunan Balai RW sepertinya sudah mulai berjalan sekitar 2 bulan atauh bahkan lebih. Saya mencatat belum pernah 1x pun mengikuti gotong royong tersebut. Bukan karena saya tidak mau, tapi kebanyakan jadwal yang saya peroleh ada di hari kerja. Ya, kompensasi saya harus membayar Rp. 75.000,- setiap tidak berangkat. Sekarang kalau ditotal sepertinya saya sudah membayar sekitar 6x denda. Hehe..

Minggu lalu kami kembali mendapatkan edaran terkait dengan gotong royong pembangunan balai RW. Kali ini dalam surat edaran yang saya dapat tertulis jika kami diwajibkan untuk membayar kompensasi Rp.100.000,- jika pada hari minggu ini tidak berangkat gotong royong. (khusus hari ini, karena akan dilakukan pengecoran untuk lantai 2).

Well, rasanya edaran gotong royong dengan adanya kata-kata wajib hadir untuk mengindari denda seratus ribu tersebut cukup berhasil. Hampir semua warganya datang untuk mengikuti gotong royong tersebut, termasuk saya. Haha.

Intinya, Gotong Royong dengan Denda Seratus Ribu memang oke.. walaupun menurut saya acara untuk mencari dananya tidak oke.. karena saya yakin dengan adanya denda yang ditetapkan oleh panitia kepada kelompok gotong royong setiap kali tidak hadir sesuai jadwal yang telah ditentukan seringkali membebani warganya.

Saya dapat katakana cukup berat: “Tidak semua warga memiliki penghasilan yang tinggi atau minimal sesuai dengan UMR. Dengan sekitar 2-3x jadwal dalam 1 bulan yang diberikan panitia kepada kelompok, dapat dibayangkan bagaimana perjuangan seorang yang hanya bekerja serabutan ataupun masih honorer untuk dapat menghidupi keluarganya yang memiliki anak bayi yang masih butuh susu dan asupan makanan yang bernilai gizi baik”.

Ah sudahlah, ga usah perlu diratapi nasib para pejuang yang juga donatur Balai RW ini. Semua cukup dijalani saja, karena semua pasti berakhir indah. Yang penting jangan ada permainan di dalamnya dan semua laporan harus transparan, karena masalah duit itu sensitive. Jangan sampai karena ingin punya barang bagus untuk bersama malah mengorbankan guyub di antara kita. Haha.

Salam gotong royong denda seratus ribu.

Facebooktwittergoogle_plus
error: