Dilema sikap membanding-bandingkan dengan orang lain

Niat untuk menulis soal ulang tahun ayah saya, istri serta ending dari liburan Aileen sepertinya sedikit tertunda dengan suatu topik yang cukup hangat di sekitar saya saat ini.

Secara tidak sengaja, di sisa cuti yang saya miliki di tahun 2014 ini saya telah menjalankan aktivitas di kantor untuk mencicil tugas yang sempat tertunda karena liburan natal. Namun saya tidak menyangka karena ada sedikit hal yang cukup mengganjal pada diri saya khususnya adanya seseorang di lingkungan kami yang sedang mencoba untuk membanding-bandingkan materi yang ia miliki dengan orang lain.

Pada tulisan ini saya tidak ingin menyebut siapa orang yang membanding-bandingkan tersebut, namun saya sedikit tergelitik dan cukup kaget dengan apa yang dilakukannya hari ini.

Bagi saya, materi yang dimiliki oleh seseorang adalah hasil dari usaha keras pribadi masing-masing. Jadi jika seseorang membanding-bandingkan materi yang ia miliki dengan menanyakan asal muasal ia dan keluarganya dapatkan sepertinya menjadi hal yang kurang etis di lingkungan kerja.

Membanding-bandingkan apa yang dimiliki oleh rekan kerja hanya akan membuat rasa iri hadir di dalamnya. Jika anda lebih baik dan lebih memiliki materi berlebih mungkin anda akan menjadi lebih sombong. Namun jika apa yang anda miliki lebih rendah dari yang anda bandingkan padahal anda memiliki status dan jabatan yang lebih tinggi, apa yang akan anda rasakan??

Salah satu kasus yang sering terjadi mungkin seperti ini. Saya mencoba berasumsi jika seorang bos membandingkan materi yang dimilikinya dengan sang anak buah, namun ternyata anak buah memiliki materi yang lebih baik daripada dirinya. Kira-kira apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh si Bos ya?? Gonduk dan iri mungkin ya.. hehe..

Jika dilihat dari sedikit kasus tersebut, saya berasumsi jika Bos merasa dirinya lebih baik dari anak buahnya, namun tanpa menyadari apa yang sebenarnya anak buahnya kerjakan di luar kantor. Bukan suatu hal yang mustahil seorang Bos yang hanya fokus pada urusan kantor memiliki materi lebih sedikit dibanding dengan anak buahnya yang sebenarnya di luar jam kerjanya memiliki banyak proyek yang mampu membuat dirinya lebih berkecukupan secara materi.

Sedikit lucu ketika anda ditanya mengenai gaji anda berapa, penghasilan tambahan anda berapa, gaji istri anda berapa oleh seseorang. Dalam hati kecil saya sendiri jika mendapatkan pertanyaan seperti itu mungkin tertawa dan bertanya. Kenapa harus terucap pertanyaan seprti itu? Nikmatilah hidupmu sendiri, karena hidup dan rejeki seseorang telah ada yang mengatur.

Saya sebenarnya tidak ingin menuliskan apa yang terjadi pada kantor saya hari ini, namun rasa tergelitik atas apa yang terjadi sepertinya dapat menjadi bahan refleksi pribadi untuk menghadapi hari-hari baru di tahun mendatang.

Cobalah untuk lebih bijak dalam menghadapi situasi di lingkungan kerja. Bagi yang membaca tulisan saya ini, ada baiknya kita tidak perlu membanding-bandingkan dan jangan suka mengurusi apa yang bukan menjadi urusanmu, karena jangan sampai jadi bumerang buat diri sendiri.. hehe..

Leave a Reply