Dilema Seorang Bawahan

Setiap orang yang bekerja dan berusaha menapaki karir biasanya selalu bermula dari level bawah. Langkah demi langkah akan menjadi sebuah proses yang akan selalu menghiasi kehidupan seorang pekerja. Tak terkecuali dengan saya sendiri.

Saya saat ini sedang bekerja di sebuah instansi pendidikan yang ada di kota Yogyakarta. Posisi saya yang saat ini masih berada di level staff dapat dikatakan cukup membingungkan. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan jika mengejar jenjang karier yang tinggi untuk seorang staff di tempat saya bekerja akan cukup sulit. Ya, mentok-mentok jadi kabag/kabiro.

Posisi kita yang berada di level bawahan alias pekerja yang memiliki atasan kadang kalanya membuat suatu dilema tersendiri. Setiap atasan memiliki sifat dan ciri khas masing-masing. Ya, memang begitulah manusia diciptakan untuk saling melengkapi. Wkwk..

Karena berada di sebuah instansi pendidikan, saya sering bertemu dengan orang-orang pintar dan intelek. Tapi siapa sangka jika orang-orang seperti itu biasanya malah banyak yang cenderung idealis dengan apa yang diyakininya.

Maaf kalau di tulisan ini saya cerita secara subjektif tentang salah satu sifat dan gaya kepemimpinan atasan berdasarkan pada penilaian pribadi. Ya, mau gimana lagi.. (Bukan berarti atasan saya seperti ini ya, tapi ada kemungkinan kita mengalami dan mendapati pemimpin yang sama dengan cerita saya).

***

Sebagai seorang bawahan, saya sering sekali bertemu dengan atasan yang gayanya sombong, merasa paling pintar, banyak omong tapi hasil kerjanya kosong. Kalaupun ada suatu keberhasilan yang di dapat, biasanya akan diceritakan ke hampir banyak orang, intinya biar mendapatkan pengakuan.
Jika bertemu dengan atasan seperti ini, biasanya apa yang dikatakan bawahan atau orang lain lebih sering disepelekan alias ra digagas. Selain itu bawahan seringkali cuma diminta mendengarkan apa yang dikatakan atasan, walaupun tidak ada hubungannya sama jobdesk kita. Dengan kata lain, komunikasinya biasanya cuma 1 arah saja. Percoyo wes..

Ada pengalaman lucu. Pada suatu saat saya yang cuma bawahan ini diminta seorang pejabat/atasan untuk membantu mengerjakan sesuatu yang sebenarnya bukan wilayah kerja saya. Karena saya cuma seorang bawahan, dilema muncul ketika saya ingin menolaknya.

Karena segan, mau ga mau saya terima pekerjaan yang diminta. Sebenernya pekerjaannya sepele cuma diminta anter barang ke unit lain. Haha..  Walaupun kelihatannya sepele, tapi rasa malu dan mangkelnya masih terniang di ubun-ubun.. (baper ceritanya).

Rasa malu dan mangkel itu muncul bukan tanpa sebab. Singkatnya, atasan tersebut terlihat menyepelekan penjelasan dari unit yang dituju sehingga saya dan teman saya harus mengulangi pertanyaan yang sama dengan yang atasan tersebut telah tanyakan. (Mungkin memang sedang sibuk, jadi lupa sama penjelasan sebelumnya).

Setelah mendapatkan penjelasan, saya antar ke unit yang dituju. Eh, ternyata barang yang dibawa banyak yang salah. Karena salah, maka saya mendapatkan pesan dan penjelasan lanjut dari unit yang saya datangi tersebut.

Karena takut salah dan lupa, maka masukan dan penjelasan yang diberikan tersebut saya catat sesuai dengan permintaan agar nantinya barang yang sebelumnya saya bawa dan salah tersebut bisa diperbaiki atasan.

Tapi karena kesombongan dan sifat atasan yang memang cenderung 1 arah. Penjelasan yang saya berikan kesannya tidak diterima dengan baik dan membuatnya kesal. Saya belum selesai menjelaskan, beliau sudah mengatakan sudah tau. (Aneh, padahal saya belum jelaskan yang diminta unit tujuan)

Ah, sudahlah. Terserah atasan saja, lagian saya juga ga rugi apa-apa karena cuma berusaha untuk bantu dan menyampaikan pesan yang sesuai dengan aturan dan permintaan unit terkait.

Hari berikutnya, atasan tersebut sudah berusaha memperbaiki apa yang memang harus diperbaiki agar barang yang diminta dapat diterima sesuai dengan aturan yang ada. Tapi setelah dikirim kembali ke unit terkait ternyata lagi-lagi ada beberapa hal yang harus diperbaiki.

Dan apa yang terjadi?? Atasan tersebut mangkel dan terkesan sombong sekali. Di angkatnya gagang telpon kemudian menghubungi unit terkait dengan mengatakan sesuatu dengan nada yang menyepelekan dan merendahkan bawahan (sinis)

Mungkin jika ditirukan kata-katanya seperti ini:

Saya pak xxx jawabannya ini, ada lagi ga yang kurang (dengan nada sinis)

Ehm.. kalo ketemu sama atasan kaya gitu, baiknya besok-besok dicuekin aja kalo minta bantuan lagi. Wkwk.. batinku (asem kie nggateli tenan)

***

Sedikit pelajaran mungkin saya dapatkan dari sini.

Sebuah dilema besar buat seorang karyawan di level bawah untuk menolak permintaan dari atasan. Semoga suatu saat nanti ketika saya sudah berada di atas, saya akan terus melihat ke bawah. Amin..

Rate this article!
Dilema Seorang Bawahan,5 / 5 ( 1votes )
Tags:

Leave a Reply