Setelah cukup lama menggunakan kamera Mirrorless Sony Nex 5, akhirnya pada akhir bulan Januari lalu saya memilih untuk mencari kamera baru yang cocok dengan kebutuhan dan budget yang saya miliki.

Sony Nex 5 with SEL 16mm

My Sony Nex 5

Sebelum saya lanjut ke kamera yang akhirnya saya pilih, saya mau cerita sedikit tentang kamera Sony Nex 5 yang hampir 5 tahun menemani saya untuk mengabadikan moment-moment penting dalam kehidupan saya. Saya sudah menggunakan kamera Sony Nex 5 sejak tahun 2012. Sony Nex 5 yang saya gunakan tersebut bahkan merupakan kamera mirrorless generasi pertama yang di miliki oleh Sony.

Sony Nex 5 sendiri menurut saya salah satu kamera yang cukup baik dikelasnya. Cukup nyaman dan simple. Namun karena saya sendiri sudah terlalu malas untuk menggunakan kamera yang memiliki lensa cukup banyak, maka akhirnya belakangan ini saya putuskan untuk mencari kamera yang lebih mudah dibawa kemana-mana alias compact plus cukup powerfull kalau dipakai untuk vlogging.

Dalam mencari kamera, kembali saya dihadapkan kepada banyak pilihan yang sulit. Ibarat mencari jodoh lah. Masing-masing brand dan tipe produk memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri. Untuk semakin menyempitkan pilihan, maka saya memberikan beberapa batasan seperti budget, brand kamera, fliped kamera, fasilitas NFC-WiFi hingga tipe dan luasan lensa.

Dari beberapa batasan yang saya tentukan tersebut akhirnya muncullah beberapa produk yang cukup memikat dan membuat galau.

Produk pertama, Sony Cybershoot DSC WX500

Image result for sony wx500

Karena sebelumnya saya terbiasa dengan kamera besutan Sony, maka saya mencari kamera dari Sony. Kamera pertama Sony yang masuk ke dalam list pertimbangan saya adalah Sony Cybershoot DSC WX500.

Kamera dengan resolusi 18 MP ini dijual pada kisaran harga Rp. 4 jutaan dan masuk dalam budget yang saya tentukan. Selain itu, urusan layar Fliped, dan fasilitas NFC+WiFi, kamera ini juga sudah memilikinya. Cukup menarik dan memikat sebenarnya, apalagi setelah saya coba melihat review dari beberapa sumber. Lensa Zoom yang dimilikinya luar biasa bos, bisa sampe 30x Zoom, bahkan banyak yang test untuk mengambil detail foto bulan (moon). Saat itu, rasanya saya pengen langsung beli kameranya. Tapi akhirnya saya putuskan untuk mencoba mencari pilihan kamera lain terlebih dahulu.

Pilihan kedua, Sony CyberShoot DSC HX90V

Images of HX90V Compact Camera with 30x Optical Zoom

Nah, kamera pilihan kedua saya masih belum pindah dari brand Sony. Kali ini saya mencoba sedikit menaikkan budget dengan mencari info tentang Sony CyberShoot DSC HX90V.

Secara spesifikasi sebeneranya tidak begitu berbeda jauh dengan Sony Cybershoot DSC WX500. Bahkan dapat dikatakan lebih canggih secara teknologinya karena dilengkapi dengan electronic view finder. Karena sebelumnya saya cukup tertarik dengan Sony DSC WX500, maka saya putuskan memasukkan Sony Cybershoot DSC HX90V ke dalam list kamera yang akan saya pilih.

Pilihan ketiga, Sony CyberShoot DSC-RX100 Mark II

Images of RX100 II Advanced Camera with 1.0 inch sensor

Kamera pilihan ketiga dari Sony ini sepertinya menjadi racun yang cukup kuat bagi saya. Setelah saya melihat review dan juga mencari-cari informasi harga, ternyata harga 2nd kamera ini dapat masuk ke budget yang saya tentukan. Melihat luasan lensa yang memiliki F/1.8 dan fitur ciamik rasanya telah menghancurkan dua pilihan kamera Sony saya sebelumnya. Bahkan dari review yang saya baca dan saya tonton, Sony RX100 merupakan salah satu kamera Compact terbaik saat ini.

Akhirnya, dua kamera sony (sony WX500 dan HX90V) yang sebelumnya ada dalam list pilihan saya, secara perlahan hilang dari pikiran saya. Satu-satunya kamera Sony yang saat ini ada adalah Sony Cybershoot DSC RX100 mark II.

Pilihan keempat, Panasonic Lumix TZ70/ZS50

Image result for lumix zs50

Kamera ini sebeneranya berada diluar dugaan saya. Saya benar-benar cukup tertarik dengan produk dari panasonic ini. Alasan utamanya sebenarnya ada pada Lensa Leica yang disematkan kepada kamera ini. Saya langsung berfikir, dengan budget sekitar 4-5jtaan saya dapat kamera pocket dengan lensa Leica. Secara Zoom juga sama seperti Sony WX500 dan HX90V dimana bisa zoom 30x.

Tapi lama-kelamaan, pesona lensa Leica dan panasonic lumix TZ70 tersebut hilang ketika saya menemukan video tentang panasonic lumix TZ80, yang notabene adalah penerus dari Lumix TZ70. Bagaimana tidak tertarik, Lumix TZ80 sudah support 4K. Selain itu ada fitur yang namanya Post Focus, jadi kita mau jepret dimana pun tidak menjadi masalah karena fokusnya bisa diatur setelah gambar di ambil. Keren kan..

Sayang, harganya ga masuk dengan budget saya. jadi saya memilih untuk pergi meninggalkan Panasonic Lumix dan masih menyisakan 1 pilihan yaitu Sony RX100 mark II.

Pilihan kelima, FujiFilm X20/X30

Image result for fujifilm x30

Setelah sempat melirik kamera Panasonic Lumix, kamera lain yang melintas di kepala saya adalah kamera dari Brand FujiFilm. Selain karena masih hangat dengan film AADC 2 dengan kamera FujiFilm XT-10 punya Rangga, desain retro dan kualitas dari kamera fujifilm ini cukup memikat saya.

Karena tujuan saya ingin mencari kamera compact, bukan mirrorless, maka saya putuskan untuk mencari informasi tentang FujiFilm X20 dan FujiFilm X30. Banyak yang memberikan masukan kepada saya tentang produk ini, khususnya para pengguna produk FujiFilm seperti mas cbramono.net, mas Andre Maling (makan keliling) dan juga om Kevin Tan.

Masukan dari mereka cukup memberikan pencerahan sebenarnya. Tapi kembali lagi ke tujuan saya mencari kamera, yaitu untuk mobilitas dan powerfull kalau untuk Vlogging. Akhirnya, setelah mempertimbangkan tujuan tersebut, saya mencoret FujiFilm X20/X30 dari daftar list.

Pilihan keenam, Canon Powershoot G7X

Image result for canon g7x

Setelah cukup banyak pilihan, saya akhirnya mencoba melirik kamera dari Canon. Jujur aja, saya tidak tahu kenapa selalu memilih brand Canon terakhir. Bahkan saya sendiri belum pernah memiliki kamera digital dari brand ini. Satu-satunya kamera canon yang pernah saya miliki adalah kamera RF Canonet QL 17 (analog).

Canon Powershoot G7X menurut saya cukup memikat hati saya, dan perlu saya masukkan ke dalam list. Hal tersebut disebabkan karena G7X memiliki harga yang masuk budget, (karena sekarang sudah muncul G7X Mark II, jadi yang Mark I harganya jadi turun). Layarnya Flip, Support WiFi-NFC, luasan lensa juga cukup memikat yaitu F/1.8 – F/2.8. Selain itu, Canon G7X pernah mendapatkan status sebagai kamera vlogger terbaik. Menarik banget buat memulai aktivitas Vlogging.

***

Setelah memiliki banyak pilihan, akhirnya tersisa 2 pilihan yaitu Sony Cybershoot DSC RX100 II dan Canon Powershoot G7X.

Image result for canon g7x vs sony rx100 II

Dari kedua pilihan tersebut saya mulai mencari info lebih lanjut dan mencari produknya di beberapa toko online. Kedua kamera yang saya cari terakhir ini rupanya sama-sama kamera yang sudah mulai langka di pasaran. Langka di sini menyebabkan harga yang dipasang oleh penjual kadang-kadang menjadi tidak masuk akal.

Ketika saya menemukan harga yang cocok, saya langsung melakukan negosiasi dan akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada Canon Powershoot G7X. Kamera yang membuat status saya sebagai seorang Nikonian dan Alparian menjadi sedikit abu-abu. wkwk..

Canon Powershoot G7X

My Canon G7X

Kenapa saya akhirnya menjatuhkan pilihan kepada canon G7X daripada Sony RX100 II?? pertama karena layar yang tidak dapat dilipat 180 derajat untuk selfie, kedua mungkin karena setelah bernegosiasi dengan beberapa penjual, harga yang di berikan kepada saya tidak terlalu cocok atau bisa dikatakan over budget.

Semoga canon G7X yang saat ini saya gunakan dapat menjadi alat untuk mengabadikan banyak momen yang saya jalani, khususnya bersama keluarga. Jika sebelumnya hanya berupa foto saja, maka selanjutnya akan banyak video yang akan saya berikan dengan dukungan Canon G7X. Selain itu, semoga suatu saat nanti saya bisa menaikkan level G7X yang saat ini saya pilih dari G7X mark I menjadi G7X Mark II.. Amin..

error: Content is protected !!